Tren pasar properti di Indonesia menjelang akhir tahun 2025 mengalami beberapa perubahan signifikan yang patut dicermati. Banyak pihak, termasuk pengamat dan pelaku industri, mulai melihat pergeseran dalam preferensi konsumen ke kawasan dengan aksesibilitas tinggi serta infrastruktur yang lebih baik.
Menyusul kondisi ini, pasar hunian sekunder di seluruh Indonesia menunjukkan gejala stagnasi harga rumah. Beberapa penyebabnya termasuk sikap ‘wait-and-see’ yang diambil oleh pemilik properti serta calon pembeli, yang memilih untuk menunda keputusan besar mereka menjelang tahun baru.
Berdasarkan laporan terbaru, harga rumah secara nasional berangsur stabil, dan suplai hunian sekunder mengalami penurunan. Situasi ini mengisyaratkan fase penyesuaian, di mana konsumen menunggu momentum yang tepat sebelum membuat keputusan investasi signifikan.
Dengan dinamika seperti ini, terdapat sejumlah faktor yang mempengaruhi permintaan pada akhir tahun. Memasuki tahun 2026, pengamat optimis akan adanya peningkatan kemampuan beli akibat stabilitas suku bunga dan pertumbuhan ekonomi yang diharapkan bisa membawa angin segar bagi pasar properti.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pasar Properti di Akhir 2025
Dalam analisis terbaru, satu hal yang dikemukakan adalah fakta bahwa pemilik properti cenderung menahan aset mereka daripada menjual. Ini disebabkan oleh kekhawatiran akan kondisi pasar yang tidak menentu, sehingga banyak yang memilih untuk menunggu hingga awal tahun sebelum memasang listing properti mereka.
Dari sisi harga, meski stagnan, beberapa kawasan masih menunjukkan minat tinggi. Hal ini terlihat dari peningkatan pencarian di kawasan yang memiliki mobilitas tinggi, seperti Tangerang dan Jakarta Selatan, yang masing-masing berkontribusi signifikan terhadap total pencarian nasional.
Keberadaan infrastruktur yang mendukung, seperti jalan tol dan transportasi umum, menjadi alasan kuat dibalik peningkatan minat ini. Konektivitas yang baik ke pusat bisnis menjadi daya tarik tersendiri bagi para pembeli yang mencari hunian strategis.
Melihat data dari pencarian yang dilakukan, meski ada penurunan pasokan, tidak tampak adanya penurunan nyata dalam permintaan. Sebagian besar konsumen tetap optimis, mencari waktu yang tepat untuk melakukan investasi di properti.
Kota yang Menjadi Incaran Pencarian Hunian
Secara rinci, Tangerang menjadi lokasi paling diminati dengan kontribusi 14,3% dari pencarian nasional. Akses langsung ke jaringan jalan dan pusat-pusat bisnis menjadi faktor pendorong terbesar, ditambah pertumbuhan kawasan-kawasan baru di sekitarnya.
Di urutan berikutnya, Jakarta Selatan menyumbang 12,2% pencarian. Keberadaan sistem transportasi terintegrasi seperti MRT dan jalur tol strategis menjadi hal yang tak terpisahkan dari ketertarikan konsumen pada kawasan ini.
Jakarta Barat juga menarik perhatian, dengan kontribusi 10,9% dari total pencarian. Fasilitas yang semakin lengkap serta aksesibilitas yang mudah menuju pusat bisnis menjadi alasan penting bagi pilihan di kawasan ini.
Meski demikian, ciri khas dari penyebaran pencarian ini menunjukkan bahwa konsumen kini lebih memilih kawasan yang menawarkan kemudahan akses dan kualitas hidup yang baik. Hal ini menggambarkan perubahan perilaku pasar yang semakin memahami pentingnya lokasi dan infrastruktur.
Dinamika Harga di Berbagai Kota di Indonesia
Saat menganalisis pergerakan harga, perlunya perhatian pada kota-kota utama di Indonesia sangat penting. Beberapa daerah menunjukkan pergerakan harga yang cukup bervariasi, di mana Bandung mencatatkan kenaikan tertinggi sebesar 1,0% secara bulanan diikuti Jakarta dengan pertumbuhan sebesar 0,2%.
Di sisi tahunan, Denpasar menjadi kota dengan pertumbuhan harga tertinggi, mencatat kenaikan 3,4%. Ini diikuti oleh Medan dan Bekasi dengan pertumbuhan masing-masing sebesar 2,1% dan 1,5%, yang menunjukkan bahwa permintaan tetap kuat.
Namun, secara keseluruhan, pasar hunian di Indonesia mengalami penurunan suplai hingga 8,6%, menandakan bahwa pemilik properti lebih memilih untuk menunggu sebelum menjual. Keputusan ini memberi gambaran bahwa banyak orang percaya pasar akan membaik di masa mendatang.
Dengan demikian, keberadaan pasar yang stagnan bukanlah tanda kelemahan, melainkan sebuah fase transisi di mana konsumen semakin selektif dalam memilih properti yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Preferensi Konsumen Terhadap Ukuran dan Tipe Hunian
Satu aspek penting yang muncul dari data yang ada adalah preferensi ukuran hunian yang semakin jelas. Pada tahun 2025, rumah berukuran kecil di kawasan pusat kota masih menjadi primadona dengan peningkatan permintaan yang signifikan.
Misalnya, rumah dengan ukuran di bawah 60 m² di Jakarta Pusat mengalami permintaan bertambah hingga 28% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa banyak konsumen menginginkan efisiensi ruang sekaligus aksesibilitas yang baik.
Di sisi lain, Bekasi menunjukkan peningkatan ketertarikan pada tipe rumah menengah, sementara Yogyakarta tetap bertahan sebagai pilihan utama untuk hunian berukuran besar. Kebutuhan akan ruang, lokasi yang strategis, dan aksesibilitas menjadi faktor yang dipastikan mendominasi pilihan konsumen.
Dengan pola ini, jelas terlihat bahwa berbagai preferensi konsumen sangat beragam dan tersegmentasi dengan baik. Para pengembang diharapkan dapat memahami dinamika ini untuk memproduksi hunian yang lebih relevan dan sesuai kebutuhan.
Prospek Pasar Hunian di Tahun 2026 yang Diharapkan Dinamis
Melihat prospek ke depan, pasar hunian Indonesia diperkirakan akan semakin dinamis pada tahun 2026. Meskipun situasi pasar saat ini menunjukkan stagnasi, beberapa kota seperti Bekasi, Medan, dan Denpasar berhasil mempertahankan harga yang menguntungkan, yang mencerminkan ketahanan pasar.
Tren penurunan suku bunga dan ekspektasi stabilitas bisa menjadi faktor kunci yang mendukung pemulihan pasar hunian. Dengan adanya harapan akan perbaikan ekonomi, banyak yang optimis kondisi ini akan menstimulus minat beli di tengah konsumen.
Secara keseluruhan, memasuki akhir tahun 2025, dinamika pasar menunjukkan adanya kehati-hatian konsumen yang semakin terukur. Dengan mempertimbangkan aspek aksesibilitas dan kualitas infrastruktur, ke depan, pasar properti nasional diharapkan dapat pulih dan berkembang secara positif.
Faktor-faktor ini menjadi fondasi penting bagi potensi pertumbuhan pasar di tahun yang akan datang, dan menjadikan tahun 2026 penuh harapan bagi industri properti di Indonesia.
