Inisiatif pengembangan sumber daya manusia (SDM) di sektor vokasi semakin mendapatkan perhatian, terutama yang berkaitan dengan kebutuhan industri. Salah satu contoh konkret adalah kerja sama antara PT Sharp Electronics Indonesia dan SMKN 3 Karawang, yang bertujuan membangun keterhubungan antara pendidikan kejuruan dan dunia industri.
Kolaborasi ini merupakan respon terhadap tantangan yang dihadapi lulusan SMK, khususnya dalam bidang teknologi pendingin udara. Dengan adanya program ini, diharapkan lulusan dapat memiliki kompetensi yang sesuai dengan tuntutan pasar kerja.
Melalui penandatanganan Nota Kesepahaman pada tanggal 26 Januari 2026, inisiatif ini diresmikan di Karawang, Jawa Barat. Acara tersebut juga dihadiri oleh perwakilan dari Dinas Pendidikan yang menunjukkan dukungan terhadap pendidikan vokasi berbasis industri.
Program Sharp Class yang diluncurkan tidak hanya sekadar memberikan pelatihan jangka pendek, tetapi menciptakan ekosistem pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan industri. Dengan kurikulum yang mengedepankan kombinasi antara teori dan praktik, lulusan diharapkan sudah siap untuk terjun ke dunia kerja sejak awal.
Peran Program Sharp Class dalam Membangun SDM Berkualitas
Sharp Class dirancang untuk menjawab tantangan kesenjangan keterampilan di sektor industri. Dalam program ini, siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan teknis, tetapi juga keterampilan tambahan yang mendukung kesiapan kerja mereka.
Lise Tiasanty, perwakilan dari Sharp, menegaskan bahwa komitmen ini merupakan investasi yang berkelanjutan dalam menciptakan tenaga kerja yang kompeten. Hal ini selaras dengan kebijakan pemerintah yang berupaya memperkuat hubungan antara pendidikan dan industri.
Menurutnya, kolaborasi ini sangat penting untuk memastikan lulusan SMK dapat bersaing dalam pasar kerja yang semakin kompetitif. Dengan keterlibatan langsung dari industri, siswa dapat memahami standar yang dibutuhkan di dunia kerja.
Keberhasilan Sharp Class dalam Mengembangkan Keterampilan Siswa
Pada pelaksanaan Sharp Class di SMKN 3 Karawang, sebanyak 25 siswa dipilih untuk mengikuti program intensif selama dua bulan. Fokus program adalah kompetensi di bidang pendingin udara (AC), yang merupakan sektor dengan permintaan tinggi di pasar.
Selain pemahaman teknis, siswa juga diajarkan soft skills yang penting, seperti kemampuan berkomunikasi dan kewirausahaan. Pendekatan ini dirancang untuk membekali lulusan tidak hanya untuk bekerja tetapi juga untuk berwirausaha secara mandiri.
Kepala SMKN 3 Karawang, Ade Mardiah Hayati, menyatakan bahwa program ini adalah contoh yang ideal dari kolaborasi antara industri dan pendidikan. Melalui metode praktik langsung dari profesional, siswa mendapatkan pengalaman yang sangat relevan dengan industri.
Jejak Rekam Sharp Class Sejak Diberlakukan hingga Kini
Sejak diperkenalkan pada tahun 2012, Sharp Class telah diterapkan di lebih dari 24 SMK di seluruh Indonesia, termasuk di berbagai wilayah mulai dari Aceh hingga Sulawesi. Hingga awal tahun 2026, program ini telah melatih 893 siswa, yang mana 83 diantaranya berhasil direkrut sebagai karyawan di perusahaan.
Banyak dari alumni juga berkarier di perusahaan-perusahaan lain serta mengembangkan usaha mandiri di sektor jasa teknik. Capaian ini menunjukkan bahwa Sharp Class berhasil menciptakan model pendidikan vokasi yang berkelanjutan dan berdampak nyata di masyarakat.
Melalui program ini, Sharp Indonesia berkomitmen untuk terus mendukung pemerintah dalam meningkatkan daya saing tenaga kerja di tanah air. Kolaborasi ini tidak hanya berfokus pada satu sekolah, tetapi juga akan terus diperluas ke wilayah lain agar manfaatnya bisa dinikmati oleh lebih banyak siswa.
