Kue dongkal memiliki hubungan erat dengan budaya kuliner masyarakat Betawi, terutama yang tinggal di sekitar Jakarta, seperti Bekasi dan Tangerang. Kue ini bukan sekadar makanan, melainkan simbol kebersamaan yang sering muncul dalam acara adat, syukuran, atau hajatan yang menyiratkan rasa syukur.
Asal nama “dongkal” mencerminkan cara penyajiannya yang unik, yakni dengan mencungkil dari cetakan berbentuk kerucut. Kue ini juga memiliki kemiripan rasa dan tampilan dengan kue awug yang berasal dari Jawa Barat, keduanya sama-sama menggunakan tepung beras dan gula merah sebagai bahan dasar.
Meskipun pedagang kue dongkal saat ini semakin langka, keberadaan kue ini tetap dipertahankan sebagai bagian dari warisan budaya kuliner. Dahulu, kue ini sering menjadi teman sarapan atau camilan sore, dan upaya untuk memperkenalkan kembali kue dongkal kepada generasi muda terus dilakukan melalui berbagai acara kuliner tradisional.
Mengenal Sejarah Kue Dongkal yang Kental dengan Budaya Betawi
Kue dongkal mengandung banyak makna dalam tradisi masyarakat Betawi. Kue ini didimensionalkan sebagai lambang rasa syukur dalam banyak upacara yang melibatkan kerumunan.
Sejarahnya memperlihatkan bagaimana kuliner dapat menjadi bagian integral dari identitas budaya suatu daerah. Kue dongkal telah menjadi bagian dari warisan kuliner yang menghubungkan generasi dahulu dengan masa kini.
Setiap suapan kue ini membawa kita pada kenangan masa lalu, saat komunitas berkumpul dan merayakan momen-momen berharga. Melalui kue dongkal, tradisi Betawi tetap hidup dalam ingatan dan praktik sehari-hari masyarakat.
Bahan dan Cara Membuat Kue Dongkal yang Tradisional
Pembuatan kue dongkal memerlukan bahan-bahan yang sederhana namun berkualitas. Tepung beras dan gula merah menjadi dua bahan utama yang memberikan rasa manis dan tekstur kenyal khas.
Proses membuat kue ini dimulai dengan mencampurkan tepung beras dan air hingga adonan menjadi halus. Setelah itu, gula merah yang sudah dilelehkan ditambahkan agar rasa manisnya merata.
Penyajian kue dongkal juga sangat unik. Setelah adonan dimasukkan ke dalam cetakan berbentuk kerucut, kue ini dikukus sampai matang. Penyajian yang dilakukan dengan cara mencungkil menjadikannya menarik dan menyenangkan untuk dinikmati.
Kue Dongkal sebagai Simbol Komunitas dan Tradisi Kuliner
Kue dongkal bukan sekadar makanan ringan, tetapi sebuah representasi dari keragaman budaya. Masyarakat Betawi menjadikan kue ini bagian dari setiap perayaan, memperkuat rasa kebersamaan dan identitas.
Setiap hidangan kue dongkal memperlihatkan usaha dan kerja keras para pembuatnya. Hal ini mencerminkan nilai-nilai tradisional yang penting untuk diteruskan dari generasi ke generasi.
Aktivitas kuliner yang melibatkan kue ini juga membantu mengedukasi generasi muda tentang warisan budaya mereka. Dengan mengenal kue dongkal, mereka diajarkan untuk menghargai dan melestarikan tradisi yang ada.
